BERAWAL dari masuknya sebuah Perusahaan Pasir Besi PT
Malta, seakan merubah segalanya, keadaan Desa Poigar yang awalnya tenang,
tentram, dan damai. malah berubah 180 derajat. Dan PT Malta dianggap sebagai
biang keladi munculnya konflik sosial yang terjadi di Desa poigar.
Saudara, teman, dan Kerabat tak ada lagi. yang ada
hanya masyarakat pro dan kontra. Bahkan sesama warga pun saling menghujat,
karena mempertahankan ideologinya masing masing.
Berbagai aksipun dilakukan masyarakat dalam
usahanya menolak kehadiran perusahaan ini, mulai dari Demonstrasi hingga
mengajukan tuntutan ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bolaang Mongondow
(Bolmong)
Tak kalah aksi, masyarakat Pro pun ikut ikutan
menyambangi DPR untuk menyampaikan aspirasinya, belakangan diketahui jika
masyarakat yang pro ini karena sudah menerima Kompensasi dari perusahaan.
Anehnya, dari dua kali DPRD Bolmong melakukan hearing (Rapat dengar pendapat) akan
tetapi PT Malta tidak pernah hadir. Alhasil, DPR memberikan status quo kepada
PT Malta,
Keputusan tersebut tak membuat manajemen PT Malta
kehilangan nyali, Pekan Kemarin PT Malta
Kembali melakukan pertemuan dengan masyarakat Desa Poigar di Balai Desa Poigar
I, turut hadir Wakil Bupati (Wabup) Yanny Ronny Tuuk STh, Komisi II DPRD
Bolmong Dan instansi instansi terkait, dari
hasil pertemuan tersebut Wabup meminta PT Malta melakukan sosialisasi kembali
dari awal, tak terima dengan keputusan tersebut, wargapun keluar dari ruang
Sosialisasi.
“Sudah jelas jelas kami menolak kehadiran PT Malta,
untuk apa dilakukan sosialisasi kembali, Kami mulai ragu dengan Sistem Pemerintahan
di Negara ini yang katanya Demokrasi (Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan
untuk rakyat.red). namun, hal itu
malah tidak sesuai dengan kenyataan yang kami terima,” ungkap Willy Mokodongan
warga Desa Poigar I.
Disatu sisi, mungkin saja pemerintah menganggap
Kehadiran Investor seperti Perusahaan Pasir Besi PT Malta, bisa meningkatkan
PAD. Namun harus juga dilihat sisi buruknya, kehadiran perusahaan pasir besi
bisa mempercepat Abrasi dan kerusakan
Ekosistem Lingkungan yang bisa membawa malapetaka bagi kehidupan masyarakat
yang tinggal dipesisir pantai.
“Belum beroperasi saja pihak perusahaan sudah
menciptakan konflik sosial, apalagi kalau sudah mulai beroperasi,” ungkap Ketua
pemuda Desa Poigar Satu Yudi Mokodongan.
Bahkan, Salah satu Tokoh Agama Kharismatik Poigar
III, Ustadz Ardy Adampe yang dengan terang terangan menolak bantuan sapi Qurban
pemberian PT Malta saat hari raya Idul Adha 1434 H beberapa waktu lalu, Ardi
menegaskan akan tetap menolak kehadiran PT Malta di Desa Poigar walaupun PT
Malta melakukan sosialisasi kembali.
“Kami akan tetap menolak kehadiran PT Malta
sekalipun PT Malta melakukan sosialisasi kembali di Desa Poigar III, dan bagi
yang mau menerima kehadiran PT Malta, yo bala-Balaan in Guhanga inta inumuna,
in moiko komintan auk aah (Kalian semua akan dilaknat oleh para leluhur),”
tandas Ardy.(*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar