Minggu, 10 November 2013

Eksploitasi Pasir Besi Anugerah atau Bencana?



BERAWAL  dari masuknya sebuah Perusahaan Pasir Besi PT Malta, seakan merubah segalanya, keadaan Desa Poigar yang awalnya tenang, tentram, dan damai. malah berubah 180 derajat. Dan PT Malta dianggap sebagai biang keladi munculnya konflik sosial yang terjadi di Desa poigar.
Saudara, teman, dan Kerabat tak ada lagi. yang ada hanya masyarakat pro dan kontra. Bahkan sesama warga pun saling menghujat, karena mempertahankan ideologinya masing masing.
Berbagai aksipun dilakukan masyarakat dalam usahanya menolak kehadiran perusahaan ini, mulai dari Demonstrasi hingga mengajukan tuntutan ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bolaang Mongondow (Bolmong)
Tak kalah aksi, masyarakat Pro pun ikut ikutan menyambangi DPR untuk menyampaikan aspirasinya, belakangan diketahui jika masyarakat yang pro ini karena sudah menerima Kompensasi dari perusahaan.
Anehnya, dari dua kali DPRD Bolmong melakukan hearing (Rapat dengar pendapat) akan tetapi PT Malta tidak pernah hadir. Alhasil, DPR memberikan status quo kepada PT Malta,
Keputusan tersebut tak membuat manajemen PT Malta kehilangan nyali,  Pekan Kemarin PT Malta Kembali melakukan pertemuan dengan masyarakat Desa Poigar di Balai Desa Poigar I, turut hadir Wakil Bupati (Wabup) Yanny Ronny Tuuk STh, Komisi II DPRD Bolmong  Dan instansi instansi terkait, dari hasil pertemuan tersebut Wabup meminta PT Malta melakukan sosialisasi kembali dari awal, tak terima dengan keputusan tersebut, wargapun keluar dari ruang Sosialisasi.
“Sudah jelas jelas kami menolak kehadiran PT Malta, untuk apa dilakukan sosialisasi kembali, Kami mulai ragu dengan Sistem Pemerintahan di Negara ini yang katanya Demokrasi (Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.red). namun, hal itu malah tidak sesuai dengan kenyataan yang kami terima,” ungkap Willy Mokodongan warga Desa Poigar I.
Disatu sisi, mungkin saja pemerintah menganggap Kehadiran Investor seperti Perusahaan Pasir Besi PT Malta, bisa meningkatkan PAD. Namun harus juga dilihat sisi buruknya, kehadiran perusahaan pasir besi bisa mempercepat  Abrasi dan kerusakan Ekosistem Lingkungan yang bisa membawa malapetaka bagi kehidupan masyarakat yang tinggal dipesisir pantai.
“Belum beroperasi saja pihak perusahaan sudah menciptakan konflik sosial, apalagi kalau sudah mulai beroperasi,” ungkap Ketua pemuda Desa Poigar Satu Yudi Mokodongan.
Bahkan, Salah satu Tokoh Agama Kharismatik Poigar III, Ustadz Ardy Adampe yang dengan terang terangan menolak bantuan sapi Qurban pemberian PT Malta saat hari raya Idul Adha 1434 H beberapa waktu lalu, Ardi menegaskan akan tetap menolak kehadiran PT Malta di Desa Poigar walaupun PT Malta melakukan sosialisasi kembali.
“Kami akan tetap menolak kehadiran PT Malta sekalipun PT Malta melakukan sosialisasi kembali di Desa Poigar III, dan bagi yang mau menerima kehadiran PT Malta, yo bala-Balaan in Guhanga inta inumuna, in moiko komintan auk aah (Kalian semua akan dilaknat oleh para leluhur),” tandas Ardy.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar